Geliat Saat Penat

Geliat Saat Penat
Geliat Saat Penat

Buku ini akan jadi sahabat terdekat
Dalam rentang waktu yang mudah-mudahan singkat
Bukan tak ingin lama bersahabat
Tapi agendaku memang padat

Tempat ini (kampusku) memang banyak membawa berkat
Tapi lama-lama berurusan dengan buku ini membuat hidupku seperti melarat

Aku harus segera minggat
Menjadi diri yang bermanfaat
Menjadi penasihat dan pengayom umat
Membuat lingkungan menjadi maslahat
Selamat, dunia dan Akhirat

Tiba-tiba aku terperanjat
Waktu menunjuk pukul sebelas tepat
Saatnya tubuhku beristirahat
Agar sehat kembali didapat.

Bandung, 28 November 2016

Kelebihan Custom Domain – Blog Lebih Dipercaya


Kelebihan Custom Domain – Blog Lebih Dipercaya – Saat pertama kali nge-blog, saya tidak terpikir untuk melakukan Custom Domain atau mengganti domain blogspot dengan Top Level Domain (TLD) seperti saat ini.

Tapi saat saya melakukan googling, tanpa sadar perhatian mata saya selalu terarah kepada blog berdomain .com, .net dan .id serta domain-domain lainnya selain blogspot.com atau wordpress.com.

Hal itu membuat saya berpikir bahwa ada pengkelasan dari orang-orang saat mencari sesuatu lewat Google. Pun ketika saya menanyakan hal itu kepada teman-teman saya. Mereka juga beranggapan blog yang menggunakan Top Level Domain lebih kredibel, dapat dipercaya.

Setelah saya cari tahu, konon blog dengan domain sendiri juga lebih SEO Friendly, artinya lebih disukai mesin pencari, baik itu Google, Yahoo, ataupun Bing.

Kata guru ngeblog saya, blog toko online dan blog yang diniatkan untuk jadi publisher Google Adsense lebih disarankan untuk custom domain. Hal itu akan menjadikan blognya lebih dianggap serius, profesional dan kredibel (meyakinkan).

Bayangkan saya kita mau beli barang secara online, lalu penyedia barangnya cuma menggunakan blog dengan domain .blogspot, pasti akan mikir dua kali buat DEAL.

Tapi anggapan-anggapan seperti yang saya paparkan tersebut sepertinya hanya berlaku di Indonesia. Sebab di negara lain banyak sarjana, magister bahkan profesor masih mempertahankan domain blogspot.com atau wordpress.com.

Lalu mengapa saya menulis artikel ini? Saya menyadari bahwa saya tinggal di Indonesia, budaya yang berlaku pun tentunya seperti yang saya paparkan di awal.

Kelebihan Custom Domain

Dikutip dari MBT yang diterjemahkan oleh CB, berikut beberapa kelebihan serta alasan mengapa Anda harus mengganti domain blogspot.com dengan domain sendiri:

  1. Reputasi Blog akan lebih baik di dunia blogging;
  2. Banyak layanan periklanan (Adsense) tidak menerima subdomain;
  3. Fans & Subscribers Meningkat dengan custom domains;
  4. Pengunjung akan lebih suka Share dan Bookmark;
  5. PageRank akan naik;
  6. Anda hanya beli/sewa domain saja, tidak dengan hostingnya karena hosting tetap di blogger (Google), aman dan nyaman.
  7. Rankings akan naik tajam.
  8. PageRank will stabilize On next PR update
  9. Bisnis Anda akan berkembang pesat. Karena nama domain sendiri lebih terpercaya

Anda tertarik untuk ganti domain? Silakan beli Domainesia. Murah! Hanya 100 ribuan.

Mitos Konten Blog yang Disukai Pembaca dan Mesin Pencari

Konten Blog yang Disukai Pembaca dan Mesin Pencari – Akhir-akhir ini banyak temen saya yang nanya, “Kenapa jadi sering menulis artikel tentang tutorial blog, SEO dan Google Adsense?”

Lalu saya jawab, “Lagi ikutan SEO Challenge. Hehe..”

Padahal mah bukan. Ini sekadar isi waktu luang saja dengan aktivitas yang sempat jadi hobi saya.

Saya terkenang 1 tahun lalu saat pertama belajar membuat blog, lalu gonta-ganti template, belajar html, ngulik CSS, hingga beli dan costum domain dari blogspot ke .com.

Dalam satu tahun ke belakang saya mendapat berbagai pembelajaran, khususnya di dunia per-blog-an. Dari merasa buang-buang waktu karena cari tahu ini itu tentang tutorial blog, hingga merasa merasa beruntung pernah mengalami masa-masa jadi blogger ‘lupa waktu’.

Baca juga: Media Abal-abal yang Bikin Sebal

Orang-orang sering bilang tentang part-time blogger dan full time blogger. Kalau saya mah blogger lupa waktu. Karena waktu itu pernah dalam satu bulan penuh selalu bangun jam 1 malam buat belajar blog. Hingga akhirnya sakitlah yang menghentikan pola hidup kurang baik itu. Sewaktu diperiksa, dokter bilang banyak saraf-saraf di kepala saya banyak yang tegang.

Itulah masa jahiliyah saya sebagai pembelajar dunia blog. Tahun ini (2016) saya dipertemukan dengan pekerjaan yang gak jauh-jauh amat dari hobi ngeblog saya, yaitu content writer. Tapi karena nulisnya nulis berita, jadi nama profesinya juga lebih dikhususkan lagi—redaktur.

Saat ini saya sedang cuti, karena harus beresin dulu proposal skripsi. Niatnya sih sebulan, tapi kayaknya 10 hari juga cukup.

Sebelum masuk kantor lagi, saya ingin bernostalgia dulu dengan dunia tutorial blog. Saya ingin berbagi tentang cara menulis artikel yang berkualitas {disukai pembaca (user friendly), disukai mesin pencari Google (SEO Friendly)}

Menulis Konten Blog yang Disukai Pembaca

Dari hasil pembelajaran 1 tahun tentang dunia blog, yang paling saya benci adalah tulisan blog yang ‘hanya’ disuguhkan untuk mesin pencari.

Setelah ditelusuri, ternyata banyak blogger yang terjebak dengan tutorial blog tentang riset kata kunci. Akhirnya mereka menumpuk banyak kata kunci yang sedang dibidiknya itu dalam postingan blog-nya.

Sebetulnya ini masalah prinsip sih. Saya sendiri beranggapan tulisan atau artikel yang disukai pembaca itu ya yang mengalir dan mudah dipahami. Dan yang pasti isi tulisan sesuai dengan judul. Gak nipu dengan judul yang bombastis tapi isi kosong.

Selanjutnya yang disukai pembaca adalah konten blog yang lengkap dan memberikan solusi bagi permasalahan yang sedang dicarinya dari blog tersebut. Ingatlah salah satu prinsip dalam berdagang, yaitu berikan yang terbaik untuk konsumen. Pembaca adalah konsumen blog, kita adalah penjualnya.

Jadi, tulislah artikel yang mengalir, lengkap dan tidak menipu dengan judul yang bombastis.

Konten Blog yang Disukai Mesin Pencari Google

Dalam hal ini banyak blogger sering berspekulasi. Ada yang so so’an bahas algoritma google, google panda, google penguin sampai google kuda.

Bisa dibilang setiap blogger punya cara pandang tersendiri mengenai ini. Hal itu bergantung pada pengalaman masing-masing.

Yang pasti algoritma google itu kita tidak pernah tahu pastinya seperti apa. Bisa jadi mereka mengubah sistemnya seminggu sekali atau bahkan sehari sekali.

Oh ya, kenapa banyak orang mencari tahu tentang konten atau tulisan blog yang disukai mesin pencari Google? Jawabannya 2.

  1. Google adalah mesin pencari yang banyak digunakan
  2. Para blogger berlomba-lomba untuk bagaimana tulisan mereka muncul di halaman pertama google.

Yang saha pahami, dan telah terbukti pada puluhan artikel saya, mesin pencari Google itu menilai konten blog dari beberapa aspek, yaitu:

  1. Artikel lebih dari 300 kata
  2. Rapi dalam hierarki perjudulan (mengandung sub judul h2, h3 dst) sehingga mudah dipindai
  3. Setiap paragraf isinya pendek-pendek, tapi padat informasi

Untuk urusan konten blog yang disukai mesin pencari Google, sejauh ini saya hanya menerapkan tiga cara di atas. Itu pun gak terlalu penting buat saya, karena saya yang sekarang bukan blogger yang jahiliyah seperti dulu.

Untuk sekarang saya menikmati jadi redaktur saja. Karena itu lebih menguntungkan, setidaknya kemampuan menulis saya diasah dan dompet saya ada isinya. hehe

Sampai jumpa.

Media Abal-abal Bikin Sebal dan Mual

Fenomena yang kini menjangkit di masyarakat maya ialah share berita-berita atau artikel yang bombastis. Itu bisa kita lihat dari judul yang umumnya panjang dan berlebihan (alay).

Menyaksikan fenomena yang kian hari kian marak ini rasanya hati saya sebal. Perut saya juga sering mual.

Terus terang, dengan banyaknya artikel atau berita yang ‘WOOOWW’ itu kadang saya merasa miris dan pesimis. Pertama, saya merasa apa yang telah saya pelajari di bangku sekolah (dari SD s/d SMA) tentang tata bahasa, kaidah Bahasa (khususnya bahasa Indonesia) seperti tidak ada gunanya. Sia-sia.

Kedua, terkait pekerjaan yang tengah saya lakoni. Kami (saya dan redaktur lain di tempat kerja) begitu hati-hati dan teliti dalam menata kata demi kata dalam postingan kami, terutama dalam penjudulan. Karena kami tahu, ketika kami salah sedikit, tak lama Pimred akan men-tag di grup media sosial internal kami.

Tapi lihat bagaimana mereka membuat judul ==> TERUNGKAP!!! TERNYATA AMIN RAIS AKAN MEMIMPIN RAKYAT PISAH DARI INDONESIA JIKA AHOK TIDAK DITANGKAP. TOLONG SEBARKAN. KASIH TAHU KELUARGA DI RUMAH!

Demi apa pun ini merupakan penghinaan. Pelecehan dan penistaan. Baik pada pekerja media, guru bahasa, pegiat bahasa, ataupun pada media-media yang telah berkomitmen untuk menjadi media yang kredibel dan bertanggung jawab. Salah satunya dengan memiliki izin penerbitan secara resmi.

Mengapa pesimis dan merasa belajar bahasa itu sia-sia? Inilah yang membuat saya dongkol, sebal dan mual. Kita bisa lihat berapa ribu kali berita atau artikel bombastis itu di share?

Setelah tautannya dibuka, enk-ink-enk, ternyata tidak seheboh yang mereka bingkai dalam ‘paragraf judul’. Semuanya itu hanya demi perolehan klik. Karena setiap klik tautan akan berpotensi menambah pundi-pundi dolar Adsense mereka.

Fenomena yang saya ceritakan itu banyak terjadi pada media abal-abal. Media yang tidak jelas siapa orang-orang di baliknya. Media yang tidak jelas alamat redaksinya. Media yang sangat diragukan kebenaran data dan faktanya.

Mudah-mudahan Menkominfo kita bisa segera bersikap tegas atas keberadaan media abal-abal tersebut. Sehingga tercipta arus informasi dan berita yang sehat dan menyehatkan. (www.ekibaehaki.com)

Rush Money, Kiamat ala Kapitalisme

Oleh: Rizqi Awal, SE.Sy

Rush Money
Rizki Awal, SE.Sy

Rush Money yang heboh itu, ialah penarikan uang besar-besaran dari sejumlah bank. Simplenya, membuat uang menjadi nyata dari rekening tabungan menuju kehidupan asli. Kenapa Rush Money sangat ditakuti oleh kapitalis? Padahal kan yang ditarik itu uang sendiri, bukan penarikan uang gaya Taat Pribadi, atau Koruptor.

Sebab, uang yang benar-benar asli tersimpan di bank itu, tak senilai dengan total semua uang yang ditabung oleh nasabah. Akibatnya apa? Tentu bank tersebut akan menutup banknya alias pailit. Sebab, uang yang ada tak bisa membayar seluruh tabungan (ini tidak termasuk dengan bunga loh ya). Kenapa bisa demikian?

Kamu percaya, jika uang yang beredar di tabungan senilai Rp 1.000 Triliun di sebuah bank, kira-kira bank menyimpan uang segitu besar? Bagaimana bentuk brankasnya? Tentu uang tersimpan, jauh lebih kecil dari itu. Sebab uang yang ada diinvestasikan pihak bank tanpa sepengetahuan nasabah. Selain itu, penjamin uang itu tak ada sama sekali.

Sehebat apa pun 9 NAGA yang sering disebut-sebut sebagai penguasa ekonomi di Indonesia itu, tidak akan berdaya. Bahkan BCA sebagai aset dari orang terkaya di Indonesia pun bisa membuat orang terkaya itu jatuh pada level sangat drastis. Wajar, kekhawatiran Rush Money berdampak pada pemilik modal.

Ini Penarikan di bank, bisa juga merambah ke ide yang lainnya yaitu Asuransi serta BPJS. Kalau sumber tiga hal yang berkaitan dengan keuangan itu ditarik besar-besaran dari nasabahnya, maka kita akan mengerti betapa rapuhnya sistem ekonomi Kapitalisme yang bersembunyi di balik nama Pancasila.

Krisisnya akan besar. Nilai Rupiah tidak ada guna lagi, sebab Pemerintah berusaha mencetak uang sebanyak-banyaknya guna menutupi kerugian akibat Rush Money tersebut. Nilai rupiah jatuh seketika. Akibatnya? Nilai utang bertambah, negara collaps. Siapa yang relatif aman terkait hal ini? Mungkin Freeport. Karena uang yang mereka miliki punya jaminan, yaitu EMAS. Sementara Uang pemerintah dalam bentuk rupiah, tak ada EMAS untuk menjamin.

Jadi, Ummat islam di Indonesia, jika permintaan mereka tak dituruti, maka saran saya, ancam tanpa melakukan kekerasan, dengan cara ya Rush Money ini. Misal nih ya, tanggal 24 seluruh orang Indonesia menarik dana Rp 5.000.000 (Dana Maksimal di ATM) yang bisa ditarik dari tabungan kita dilakukan oleh 1.000.000 ummat islam. Artinya ada sekitar Rp 5 Triliun yang ditarik besar-besaran. Selama dua hari, artinya ada sekitar Rp 10T. Collaps? Minimal perbankan terguncang.

Dan akibatnya, Menko Ekuin dan menteri keuangan akan berpikir keras. Salah satunya, terpaksa membangkrutkan sejumlah bank demi mengamankan nilai mata tukar rupiah terhadap dollar.

Ya, sekali lagi, beginilah kapitalisme. Masih percaya dengan Kapitalisme?

Komunikasi Diplomatis ala Peramal Kerajaan

ALKISAH. Suatu hari seorang raja terbangun dari tidurnya. Ia baru saja mengalamim buruk yang penuh teka-teki. Dengan napas yang masih belum stabil ia berteriak-teriak memanggil hulubalang kerajaan.

“Hulubalang… panggilkan peramal istana sekarang juga. Cepat!”

Hulubalang lantas bergegas memenuhi permintaan sang raja.

Tak lama kemudian, datanglah peramal kerajaan menghadap. Raja langsung membeberkan mimpinya dan meminta si peramal mengartikannya.

“Aku bermimpi aneh sekali. Dalam mimpi itu, gigiku tanggal semua. Pertanda apa ini?” tanya sang raja cemas.

Setelah mengadakan perhitungan dan penanggalan secara cermat dan teliti, dengan sedih si peramal berkata, “Mohon ampun, Baginda. Dari penerawangan hamba, mimpi itu membawa pesan, bahwa kesialan akan menimpa Baginda. Karena, setiap gigi yang tanggal itu berarti seorang anggota keluarga kerajaan akan meninggal dunia. Jika semua gigi tanggal, berarti kesialan besar, semua anggota keluarga kerajaan akan meninggal dunia!”

Sang raja tak menerima hasil ramalan tersebut. Seketika merah padam mukanya. Lantas diperintahkanlah penghukuman bagi peramal tersebut.

Kendati demikian, sang raja masih belum bisa tenang. Hatinya bertambah gundah mendengar penuturan peramal tersebut.

“Hulubalang, panggilkan saya peramal lain yang lebih hebat daripada peramal tadi!”

Segeralah peramal baru datang menghadap sang raja. Kali ini, setelah mendengar penuturan mimpi sang raja, peramal itu tersenyum.

“Baginda Raja, dari penerawangan hamba, mimpi baginda tersebut membawa pesan bahwa Baginda adalah orang yang paling beruntung di dunia. Paduka berumur panjang dan akan hidup lebih lama dari semua sanak keluarga Baginda,” kata peramal dengan nada riang dan bersemangat.

Mendengar hasil ramalan tersebut, seketika senyum sang raja tersembul di wajahnya. Tampaknya, ia sangat senang dengan perkiraan peramal tadi.

“Kamu memang peramal yang pandai dan hebat. Dan sebagai hadiah atas kehebatanmu itu, aku hadiahkan 5 keping emas untukmu. Terimalah!”

“Terima kasih, baginda. Hamba sangat senang dapat membantu baginda.”

Setelah peramal kedua itu pergi, sang raja bertanya kepada penasihat istana tentang kualitas dan keakuratan kedua peramal tadi.

Penasihat istana yang telah menyaksikan peristiwa tersebut, dengan berani dan bijaksana berkata, “Baginda. Menurut hamba, peramal pertama mengartikan tanggalnya gigi baginda sama artinya dengan meninggalnya kerabat Baginda. Sementara peramal kedua mengartikan Baginda berumur lebih panjang daripada kerabat Baginda. Sesungguhnya, kedua peramal itu menyatakan hal yang sama. Yaitu, semua kerabat Baginda akan meninggal lebih dulu, dan Baginda seoranglah yang akan hidup lebih lama.”

“Jadi sebenarnya, kedua peramal tadi mempunyai kualitas yang setara. Yang membedakan hanyalah cara penyampaian mereka. Peramal pertama berbicara apa adanya tanpa memikirkan dampak negatifnya. Sementara peramal kedua menjawab dengan cerdik dan bijak sehingga Baginda merasa senang dan memberinya hadiah.”

***

Begitulah kehidupan kita. Bukan tentang keberuntungan, bukan tentang tingginya pangkat atau jabatan. Melainkan tentang cara-cara.

Dalam kisah tersebut disiratkan tentang cara-cara berkomunikasi. Kita bisa saksikan penasihat kerajaan menuturkan bahwa kemampuan dari dua peramal tadi sebetulnya sama. Yang membedakan adalah cara menyampaikannya.

Lihatlah bagaimana peramal kedua menyampaikan gagasan tentang makna mimpi sang raja dengan begitu diplomatis. Lantas ia diganjar dengan 5 keping emas dari sang raja.

Secara sederhana, pola komunikasi bisa dibedakan menjadi dua, yaitu pola komunikasi positif dan pola komunikasi negatif. Pola komunikasi positif (seperti sikap kooperatif, kerjasama, kesepahaman, ketulusan, dan toleransi) hampir dipastikan mendatangkan output positif.

Sebaliknya, pola komunikasi negatif (seperti kesalahpahaman, kebencian, kecurigaan, keragu-raguan, permusuhan dan dendam) hampir dipastikan membawa akibat-akibat negatif pula.

Keterampilan berkomunikasi secara positif merupakan “syarat mutlak” bagi kesuksesan kita dalam bidang apa pun. Maka, mari kita mulai mengembangkan pola komunikasi positif dengan orang-orang terdekat kita, dengan teman-teman, rekan kerja, relasi bisnis, dan pihak-pihak lain yang relevan dengan aktivitas kita sehari-hari, agar kualitas pergaulan kita terpelihara dengan baik. Sehingga, baiklah juga kualitas kehidupan kita. (www.ekibaehaki.com)

*Kisah ini disadur dari Andriewongso.com dengan pengubahan judul dan susunan kata.

Kerja adalah Kehormatan

Om, Bunga, Om?
Om, Bunga, Om?

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Saat tengah sibuk dengan laptopnya, ia dihampiri gadis kecil dengan membawa beberapa tangkai bunga.

”Om beli bunga Om.”

”Tidak Dik, saya tidak butuh bunga,” ujar lelaki itu sambil tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata,”

Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh, Om akan beli bunga dari kamu.”

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu.

Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

”Sudah selesai kerjanya Om? sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai 2000 saja!”

Bercampur antara jengkel dan kasihan sipemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

“Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil menyodorkan uang kepada si gadis.

Gadis itu pun mengambil uang tersebut, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.

”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”

Baca juga: Yang Kautinggalkan Di Restoranku

Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”

Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa pekerjaan adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa, tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan.

Eksekutif muda itu akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.

Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas dengan uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apa pun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, maka akan memberikan nilai penghormatan yang tinggi. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan.

Setelah 3 Bulan Berjalan

Bulan ini menjadi bulan ketiga dimana aku bekerja sebagai redaktur di sebuah media online. Aku terkenang kata pimredku saat pertama aku melamar ke tempat yang sama tapi dengan modal yang berbeda. Beliau berkata, “Semua redaktur yang datang kemari mengalami hal yang sama dengan Eki. Tapi kalau Eki bertahan tiga bulan di sini, InsyaAllah, jika melihat yang sudah-sudah pasti Eki akan betah.”

Tiga hari ke depan, tepatnya pada tanggal 9 September 2016, bulan ketiga sebagai redaktur media online akan benar-benar teralami. Mungkinkah aku akan benar-benar betah?

Meminjam kata-kata Antonio Conte yang semenjak jadi pelatih Chelsea, mendadak juga jadi idola baruku. Begini katanya, “Dalam sepak bola, tidak akan ada yang bisa menjanjikan 100%, sebelum peluit wasit dibunyikan, hal apa pun masih bisa terjadi.”

Seperti itu pula jawaban akankah aku betah setelah melewati bulan ketiga nanti. Yang sudah pasti, ada statement baru dari pimredku ketika aku datang ke sana untuk kali kedua, begini bunyinya: “Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, maka tegaslah memilih salah satu. Ketika pilihan itu telah kita tetapkan, maka yakinlah kita akan sukses di situ. Dan untuk tempat yang kita tinggalkan, pasti Allah akan menaruh orang baru di sana, yang juga dengan kapasitas yang mungkin lebih mumpuni daripada kita,”

“Saya tidak pernah takut kehilangan salah satu di antara kalian, karena saya yakin Allah akan menghadirkan sosok baru yang bisa jadi kapasitasnya lebih daripada kalian,”

Wallahu a’lam kita tidak pernah tahu nasib akan membawa kita ke mana. Namun sedikit refleksi setelah 3 bulan berada di sini, aku merasakan banyak yang Allah tumbuhkan dari beberapa sisi kehidupanku. Aku tidak bisa menjabarkan dimana letak pertumbuhan itu, tapi aku bisa merasakannya.

Namun harus kuingat baik-baik, tempat ini bukan hanya tempat untuk tumbuh. Tempat ini memiliki target-target yang jelas yang mana setiap bulan selalu dievaluasi. Jadi, sungguh naif jika aku hanya berbicara tentang pertumbuhanku tanpa mempedulikan pertumbuhan tempat ini.

Pada akhirnya, tentang bagaimana aku akan tetap tinggal atau pergi, bergantung pada pemangku kebijakan di tempat ini dan kemampuanku untuk terus beradaptasi dengan cara-cara, pola-pola, dan ritme kerja yang menjadi strategi bersama untuk menjadikan tempat ini selalu ada tapi tidak sekadar ada. Kuserahkan hanya pada-Nya.

(Karawang, 6 September 2016)

Kalimat Rancu: Contoh dan Penjelasan

Selain kalimat salah kaprah, ada juga kalimat rancu. Kalimat Rancu ialah kalimat yang susunannya sedemikian rupa sehingga maknanya sulit dipahami atau tidak jelas.

Berikut ini beberapa contoh kalimat yang rancu.

1. Di Jakarta akan mengadakan pameran pembangunan selama bulan Agustus.
Sepintas, kalimat di atas seperti kalimat yang tidak bermasalah. Namun jika diperhatikan secara seksama, kalimat di atas sangatlah rancu. Tidak enak dibaca. Pada intinya, kalimat di atas ingin menceritakan bahwa di Jakarta akan diadakan pameran pembangunan. Pameran tersebut akan berlangsung selama bulan Agustus.

Yang membuat kalimat di atas rancu ialah adanya kata depan ‘Di’. Jika kata depan ‘Di’ tersebut dihilangkan, kalimat tersebut mungkin menjadi lebih enak dibaca. Namun dari kacamata kaidah bahasa jurnalistik, meski ada penghilangan kata depan ‘Di’, kalimat tersebut belum sepenuhnya dapat dibenarkan, karena kata Jakarta dalam subjek kalimat tersebut merupakan nama kota. Emangnye Kota bisa mengadakan acara pameran pembangunan?

2. Pada bacaan anak-anak harus memberikan contoh atau teladan yang baik.

Contoh kedua masih sama kasusnya seperti contoh pertama, yakni adanya kata depan pada awal kalimat. Bedanya, ketika kata depan pada contoh kalimat kedua ini dihilangkan, maka kalimat tersebut sudah layak disebut kalimat yang benar.

Kalimat Membosankan yang Perlu Dihindari Penulis dan Penyunting Naskah

Kalimat membosankan ialah kalimat yang mengandung dua buah kata yang berasal dari kata dasar yang sama. Baik penulis maupun penyunting naskah sebaiknya menghindari kalimat seperti ini karena membuat pembaca bosan/jenuh.

Berikut ini disajikan beberapa contoh kalimat membosankan.

  1. Pertanyaan itu sering dipertanyakan kepada kami.
  2. Kejadian itu sudah sering terjadi di sini.
  3. Lama penataran berlangsung selama lima bulan.
  4. Tumbuhan itu dapat bertumbuh di ladang maupun di sawah.
  5. Tim kami sudah menjuarai kejuaraan itu dua kali.

Semua kalimat di atas sangatlah membosankan. Mari kita koreksi dengan kalimat serupa yang tidak membosankan.

  1. Pertanyaan itu sering dilontarkan kepada kami.
  2. Peristiwa itu sudah sering terjadi di sini.
  3. Penataran itu akan berlangsung selama lima bulan atau Penataran itu akan berlangsung lima bulan.
  4. Tanaman itu dapat tumbuh di ladang maupun di sawah.
  5. Tim kami sudah memenangi kejuaraan itu dua kali.

Baca juga: Kata Mubazir dalam Teks Berita