Yuk Kenali Jenis-jenis Media Online

Jenis-jenis Media Online

Secara teknis atau ‘fisik’, media online adalah media berbasis telekomunikasi dan multimedia, yakni memadukan antara komputer dan internet. Yang termasuk dalam kategori media online di antaranya portal, website (situs web, termasuk blog dan media sosial seperti facebook dan twitter), radio online, TV Online dan E-mail (Romli: 2012).

Secara umum dan masyhur di kalangan masyarakat, media online merupakan bentuk baru atau wajah baru jurnalistik dalam era media baru. Utamanya ialah website berita (news online media).

Asep Syamsul Romli mengklasifikasikan jenis-jenis media online menjadi lima kategori:

  1. Situs berita berupa edisi online dari media cetak surat kabar atau majalah, seperti republika online, kompas.com, tribunnews.com dan pikiran-rakyat.com.
  2. Situs berita berupa edisi online media penyiaran radio, seperti Radio Australia (radioaustralia.net.au) dan radio Nedderland (rnw.nl).
  3. Situs berita berupa edisi online media penyiaran televisi, seperti metrotvnews.com dan liputan6.com.
  4. Situs berita online murni yang tidak terkait dengan media cetak atau elektronik, seperti antaranews.com, islampos.com detik.com dan viva.co.id.
  5. Situs indeks berita yang hanya memuat link-link berita dari situs berita lain, seperti Yahoo! News, Google News, NewsNow, Chelseanews.com dan lain sebagainya.

Baca juga: Pengertian dan Dasar-dasar Jurnalistik Online

Dari sisi pemilik (owner) atau publisher, jenis website dapat digolongkan menjadi enam, yaitu:

  1. News Organization Website: situs lembaga pers atau penyiaran, seperti edisi online surat kabar, televisi, agen berita, dan radio.
  2. Commercial Organization Website: situs lembaga bisnis atau perusahaan, seperti bisnis online atau toko-toko online (online store).
  3. Website Pemerintah: di Indonesia ditandai dengan domain [dot] go.id seperti kemenag.go.id untuk website Kementerian Agama RI dan dpr.go.id untuk website DPR RI.
  4. Website Organisasi Non-Profit: seperti lembaga amal atau grup komunitas.
  5. Website Kelompok kepentingan (Interest Group), termasuk website ormas, parpol dan LSM.
  6. Website Blog (Blog) atau Personal Website.

Bagaimana, bisa dipahami?

Sepatu yang Tertinggal

Suatu hari seorang bapak tua hendak bepergian menggunakan kereta. Namun karena terburu-buru, ketika naik, sebelah sepatunya tersangkut di pintu dan jatuh ke atas rel. Ia hendak mengambilnya namun kereta terlanjur berjalan dan tak mungkin memintanya untuk berhenti. Sesaat kemudian, ia malah melakukan sesuatu yang tidak lazim. Si bapak tua dengan tenang melepas sepatu sebelahnya, lalu melemparkannya ke luar tak jauh dari sepatu tadi jatuh.

Kebetulan semua kejadian itu diperhatikan oleh seorang pemuda yang duduk di dalam kereta. Karena merasa penasaran, pemuda itu hendak bertanya langsung pada si bapak tua. Begitu bapak tua itu melewati tempat duduknya, si pemuda menyapanya ramah. “Salam, Pak. Saya tadi sempat memperhatikan apa yang Bapak lakukan. Boleh saya bertanya sesuatu?”

“Silakan, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan?” ujar si bapak tua.

“Begini, Pak. Tadi Bapak sudah kehilangan satu sepatu, lalu kenapa Bapak juga melemparkan sepatu Bapak yang lain? Dengan begitu, bukankah Bapak sekarang tak punya alas kaki.”
Si bapak tua itu melihat pemuda itu sambil tersenyum, lalu menjawab ramah, “Nak, seperti yang sudah kamu lihat tadi, saya sudah kehilangan satu sepatu. Sepatu yang terjatuh tadi mungkin akan ditemukan oleh seseorang, dan bisa saja dia itu orang yang tak berpunya. Tapi, apakah sepatu yang cuma sebelah itu ada gunanya buatnya? Tidak, kan? Sementara saya sendiri, apakah sepatu yang masih melekat di kaki saya tadi juga masih bermanfaat bagi saya? Tidak juga, kan?

“Jika saya melemparkan sepatu sebelahnya lagi, kemungkinan besar orang yang tadi menemukan sepatu saya akan menemukan pasangannya. Dengan begitu, sepatu itu bisa kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Karena itulah, saya lemparkan sepatu sebelahnya lagi supaya orang yang menemukannya bisa memanfaatkannya dengan baik.”

Bapak tua di dalam kisah tadi adalah Mahatma Gandhi. Apa yang dilakukan beliau mengandung sebuah filosofi dasar dalam hidup.

Sepanjang masa hidup, kita hampir pasti akan merasakan suatu kehilangan. Entah itu berupa materi atau orang yang kita cinta. Dan bagi kita, kehilangan itu awalnya terlihat tidak adil. Tapi jika kita renungkan lebih jauh lagi, kehilangan itu sejatinya terjadi agar ada perubahan positif dan berarti dalam hidup kita.

Berkeras mempertahankan apa yang kita miliki tidak membuat kita atau dunia di sekitar kita menjadi lebih baik. Tapi memberikan dengan ketulusan hati dapat membantu banyak orang dan membuat mereka bahagia.

*Kisah ini disadur dari web Andire Wongso, yang begitu terkenal dengan kisah inspiratifnya. 

Jadilah Diri Sendiri dengan Nge-Blog

Pernah gak nemuin blog yang isinya sama persis dengan blog lain yang pernah kita kunjungi sebelumnya? Apa yang kamu rasain? Risih gak?

Buat sebagian orang sih pasti bodo amat, karena yang mereka butuh saat blowsing di internet tak lain dan tak bukan adalah informasi atau pengetahuan yang mereka butuh.

Mereka gak akan peduli masalah siapa yang maparin, dari mana sumbernya, kredible apa enggak dan ‘copas’ (copy + paste) atau bukan.

Tapi kita pernah mikir gak kalau seandainya kita selaku penulis atau blogger yang konten blog atau tulisannya ada yang copas? SEPENUHNYA. FULL. Murni tulisan kita tanpa mereka olah lagi.

Yang jadi masalah sebetulnya bukan masalah ikhlas gak ikhlasnya. Cuma yang disayangkan ya itu tadi, bakal banyak blog yang isinya sama.

Kan gak asik banget, masa buah pikiran dari kepala orang dipajang di blog sendiri tanpa nyebutin siapa yang nyusun tulisan itu.

Dan yang bikin gak asik lagi, ketika ada yang komentar menanyakan perihal tulisan itu, apakah si tukang copas itu bisa jawab? Kan belum tentu.

Tapi kalau tulisan di blog itu ditulis sama pemilik blog itu sendiri, udah pasti dia nguasai betul tentang apa yang ditulisnya.

Kalau ada yang tanya-tanya lewat kolom komentar, pasti dia bisa jawab juga, alhasil aktivitas blogging jadi lebih seru, komunikatif dan menambah pertemanan.

Nge-Blog untuk Aktualisasi Diri

Yang ingin aku bahas di sini yaitu tentang bagaimana menjadi diri sendiri dengan aktivitas nge-blog.

Percaya gak percaya, ketika kita nge-blog dengan tujuan aktualisasi diri, di situ ada kepuasan tersendiri.

Apa yang terjadi, apa yang kita alami, kita share, kita tulis, tentunya dengan gaya kita sendiri, dengan cara kita sendiri, masalah enak dibaca atau enggak, menarik atau enggak, yakin deh seminggu dua minggu juga itu udah bukan masalah lagi.

Terus bakal ada yang baca?

Ya itu dia tantangannya. Dengan begitu kita dituntut buat memelihara kedekatan kita dengan teman-teman, ngejaga persahabatan, kalau gak gitu, siapa yang mau baca blog kita?

So, hikmah lainnya, secara perlahan kita bakal memperluas pertemanan, menjalin silaturrahmi dengan orang baru. Dan yang lebih wawnya lagi, Allah udah ngejamin kalau kita selalu menjalin silaturrahmi, maka usia kita dipanjangkan, dan rizki kita juga insyaAllah bakal luas.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (Muttafaqun ‘alaihi).

So, kesimpulan dari tulisan ini, aku ingin ajak kamu buat sama-sama tumbuh, membiasakan menulis berdasarkan pengalaman dan kejadian yang dialami, atau apa pun yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, sekaligus ngajak juga buat gak mudah tergiur dengan blog milik orang lain yang topiknya beda sama kita. –Jangan ikut-ikutan!-

Karena sebagus apa pun topiknya, sebagus apa pun tulisannya, masih lebih baik membahas apa yang kita kuasai. [www.ekibaehaki.com]

Tentang Cinta, Pandangan Bujang Berhati Lurus

Cinta adalah ketika dua manusia belainan jenis (antara laki-laki dengan perempuan) saling mensahabati, saling mendukung, untuk menghadirkan suatu kebaikan.

Tidak ada yang lebih indah dari bersatunya dua jiwa selain menghasilkan sebuah kebaikan,

baik bagi keduanya, maupun bagi lingkungannya (keluarga, sahabat, dan alam).

Bukan cinta jika satu pihak mendatangi pihak lain hanya demi menuntaskan kehendak pribadinya tanpa memikirkan apa yang bisa ia beri untuk yang didatangi.

Karena itu, mencinta juga harus memiliki bekal atau modal. Tidak terbatas pada materi, bisa juga berupa baiknya sikap, tingginya moral dan anggunnya perilaku.

Dan yang terpenting adalah modal ilmu. Baik itu ilmu tentang cinta itu sendiri (seperti konsep daya tarik satu sama lain), maupun ilmu kehidupan (seperti tentang bagaimana cinta itu menghasilkan perbaikan yang membaikkan).

Cinta adalah kebaikan, menghasilkan perbaikan yang membaikkan.

5 Unsur Komunikasi yang Wajib Anda Ketahui

Unsur Komunikasi menurut Harold Lasswell terdiri atas komunikator (source), pesan (massage), media/saluran, komunikan (receiver), dan efek (effect).

Itu diambil dari definisi komunikasi yang diungkapkan Lasswell, yakni

Komunikasi tidak akan terjadi jika tidak ada pesan yang ingin disampaikan (massage), penyampai pesan (komunikator), penerima pesan (komunikan), dan perantara (media). Dan suatu proses komunikasi akan selalu memberikan efek atau dampak tertentu bagi para pelakunya, terutama pada komunikan, entah dari segi pengetahuan, sikap atau tindakan.

Berikut adalah penjelasan mengenai 5 unsur komunikasi tersebut

  1. Komunikator

Semua proses komunikasi selalu melibatkan komunikator atau penyampai pesan. Dalam istilah lain, komunikator disebut juga sumber (source), pengirim (sender) dan penyandi (encoder).

Dalam komunikasi antarmanusia, komunikator bisa berupa individu (satu orang) dan bisa pula berupa kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga.

  1. Pesan/Massage

Dalam proses komunikasi, pesan merupakan sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima atau komunikator kepada komunikan. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka (face to face) atau melalui media komunikasi (media cetak, media online, telepon). Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda.

Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata massage, content atau informasi (Hafied Cangara, 2008: 22-24).

  1. Media/Saluran

Media adalah alat atau sarana yang digunakan komunikator untuk menyampaikan pesan kepada kepada komunikan. Beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, media yang paling dominan dalam berkomunikasi adalah pancaindra manusia seperti mata dan teliga.

Pesan-pesan yang diterima pancaindra selanjutnya diproses dalam pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan.

Dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar karya Profesor Deddy Mulyana disebutkan, saluran komunikasi juga merujuk pada cara penyajian pesan, apakah secara langsung (face to face) atau melalui media seperti surat kabar, telepon, televisi, radio, selebaran Overhead Projector (OHP) dan lain sebagainya.

Komunikator akan memilih salah satu dari saluran atau media komunikasi untuk ia gunakan bergantung pada situasi, tujuan dan jumlah komunikan yang dihadapinya.

  1. Komunikan/Penerima Pesan

Komunikan dalam proses komunikasi adalah pihak penerima pesan. Komunikan bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelempok, partai atau negara. Komunikan biasa disebut dengan berbagai macam istilah, seperti khalayak, sasaran, atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver.

  1. Pengaruh/efek

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima antara sebelum dan sesudah menerima pesan. Efek ini bisa dilihat pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang yang menjadi komunikan dalam proses komunikasi.

Dalam bukunya, Deddy Mulyana mencontohkan efek komunikasi ini dengan seseorang yang tadinya tidak ingin membeli suatu produk kemudian berubah pikiran menjadi bersedia membeli produk karena telah melihat iklan produk tersebut.

Demikian pembahasan mengenai 5 unsur komunikasi yang dirangkum dari buku karya Profesor Deddy Mulyana penerbit Rosda.

Bahasa Jurnalistik, Pengertian dan Karakteristik

Pengertian Bahasa Jurnalistik

Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang berfungsi sebagai pemberi informasi kepada publik, atau dapat diartikan sebagai bahasa komunikasi pengantar pemberitaan yang biasa digunakan media cetak dan elektronik. (Menurut Wikipedia)

Sementara menurut AS. Haris Sumadiria dalam bukunya Bahasa Jurnalistik (2006:7) Bahasa jurnalistik didefinisikan sebagai bahasa yang digunakan oleh para wartawan, redaktur, atau pengelola media massa dalam menyusun dan menyajikan, memuat, menyiarkan dan menayangkan berita serta laporan peristiwa atau pernyataan yang benar, aktual, penting dan menarik dengan tujuan agar mudah dipahami isinya dan cepat ditangkap maknanya.

Berdasarkan bentuknya, bahasa jurnalistik terbagi atas bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi, dan bahasa jurnalistik media online.

Namun dari beberapa jenis jurnalistik tersebut, 17 karakteristik bahasa jurnalistik berikut berlaku untuk semuanya.

Karakteristik Bahasa Jurnalistik

  1. Sederhana: Sederhana berarti selalu mengutamakan atau memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen (beragam, baik dari segi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dll).

  1. Singkat: Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang amat berharga.

  1. Padat: Padat berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.

  1. Lugas: Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan penarikan kesimpulan suatu berita.

  1. Jelas: Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur atau bias. Jelas di sini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya, dan jelas sasaran atau maksudnya.

  1. Jernih: Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan.
  2. Menarik: Artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika.

  1. Demokratis: Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa. Bahasa jurnalistik sangat menekankan aspek fungsional dan komunal, yakni bagaimana berita yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh si pembaca. Artinya ada kesamaan pemaknaan antara pewarta dengan pembaca.

  1. Populis: Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca. (Tidak membuat pembaca harus membuka kamus tertentu untuk memahami isi berita).

  1. Logis: Artinya, apa pun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense).

  1. Gramatikal: Berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.

  1. Menghindari kata tutur: Kata tutur adalah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Contoh: bilang, dibilangin, bikin, kayaknya, mangkanya, kelar, jontor, dll.

  1. Menghindari kata dan istilah asing: Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan.

  1. Pilihan kata (diksi) yang tepat: Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif, tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya, setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat, sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
  2. Mengutamakan kalimat aktif: Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman, sedangkan kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman.

  1. Menghindari kata atau istilah teknis: Karena ditujukan untuk umum, bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Selain tidak efektif, itu juga mengandung unsur ‘pemerkosaan.’

  1. Tunduk kepada kaidah etika: Salah satu fungsi utama pers adalah mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak hanya mencerminkan pikiran seseorang, tetapi juga menunjukkan etikanya. Sebagai pendidik, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku.

(Dirangkum dari buku Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalistik; karya Drs. A.S. Haris Sumadiria, M.Si.)

 

Wellcome Back, David Luiz!

Kembalinya si kribo ini sedikit mengurangi kekhawatiran akan keroposnya lini belakang. Saat dia pergi, banyak orang di Stamford Bridge membenci dirinya. Terlebih saat menyaksikan selebrasi-selebarinya bersama pihak lain ketika Tim London justru terpuruk.

Tapi yakinlah, David, di tempat lama yang kini kau akan kembali mendiaminya, kebencian-kebencian itu akan sangat mudah untuk berubah menjadi kecintaan. Berikan yang terbaik. Jadikan warna baru yang kau dapat di tempat pembelajaran (PSG) dulu sebagai kekuatan yang lebih menguatkan di rumah lamamu.

Tapi betul kata Antonio Conte, dalam sepak bola tidak pernah mengenal 100%. Semua kemungkinan bisa terjadi. Jika kau nanti terdepak oleh orang-orang yang ternyata lebih kuat, yang datang selama kau pergi, berbesarhatilah.

Namun selama kau berjuang, kau tidak akan pernah hilang dari hati penduduk tempat ini.

“Selamat datang kembali, David Luiz!”

Penggunaan Kata Mubazir Dalam Teks Berita

Kata mubazir. Mengacu pada penjelasan seorang wartawan senior H. Rosihan Anwar, kata mubazir ialah kata yang bila tidak dipakai pun tidak akan mengganggu kelancaran berkomunikasi. Kata mubadzir dinilai sebagai kata yang sifatnya berlebihan.

Penggunaan kata mubazir dalam teks berita

Dalam kaidah bahasa jurnalistik, kata mubazir sangat dilarang penggunaannya. (bisa disebut haram, Hehe).

Mengapa? Karena tidak sesuai dengan salah satu syarat penting yang harus dipenuhi ketika kita ingin menulis teks berita, yakni efisiensi. (Anwar, 1991: 23).

Dalam bukunya, Rosihan Anwar memberi contoh kata-kata yang termasuk kata mubazir dalam teks berita, di antaranya:

  1. Bahwa
  2. Adalah
  3. Telah
  4. Untuk
  5. Dari

Perhatikan contoh penggunaan kata mubazirr dari kata-kata di atas berikut ini:

  • Pengacara Jessica Wongso mengatakan bahwa client-nya bukan pembunuh Mirna Salihin ==> Pengcara Jessica Wongso mengatakan client-nya bukan pembunuh Mirna Salihin.
  • Larissa Chou adalah seorang mualaf ==> Larissa Chou seorang mualaf
  • Eki Baehaki telah menjadi mahasiswa UIN Bandung sejak 2013 ==> Eki Baehaki menjadi mahasiswa UIN Bandung sejak 2013
  • Ruhut berusaha untuk menyelesaikan masalahnya dengan menemui SBY ==> Ruhut berusaha menyelesaikan masalahnya dengan menemui SBY
  • Putra kedua dari Arcandra Tahar ini … ==> Putra kedua Arcandra Tahar ini ..

Contoh kata mubazir lainnya:

  1. Oleh
  2. Yang
  3. Pada tahun/tanggal/hari

Contoh penggunaannya:

  • Acara tersebut disponsori oleh Jessica Coffeemix ==> Acara tersebut disponsori Jessica Coffeemix
  • Laga Chelsea kontra West Ham sepekan yang lalu berkesudahan 2-1 untuk kemenangan Chelsea ==> Laga Chelsea lawan West Ham sepekan lalu berkesudahan 2-1 untuk kemenangan Chelsea
  • Laga Chelsea kontra Burnley digelar pada tanggal 27 Agustus ==> Laga Chelsea kontra Burnley digelar 27 Agustus.

Selain contoh-contoh di atas, kata mubadzir masih banyak lagi bentuknya, seperti pada pengulangan subyek, kemudian ada pula yang merupakan kata depan, kata hiponim, kata sambung, frasa, klausa, pelengkap, keterangan dan yang lainnya.

Pada intinya, kata mubazir merupakan kata yang bila tidak dipakai pun tidak mengubah makna suatu kalimat.

Terima Kasih. Semoga Bermanfaat. (www.ekibaehaki.com)

Pengertian dan Dasar-dasar Jurnalistik Online

Pengertian Jurnalistik Online

Jurnalistik Online adalah komunikasi media massa di era baru, dimana penyampaian pesan komunikasi massanya disalurkan melalui media internet. Jurnalistik ini juga merupakan jurnalistik level tertinggi setelah jurnalistik cetak dan jurnalistik elektronik (jurnalistik televisi dan jurnalistik radio).

Jurnalistik jenis ini berkembang dengan pesat dan melahirkan era baru dalam dunia jurnalistik. sebut saja smartphone journalism (jurnalistik smartphone) yang memungkinkan siapa pun dapat menjadi seorang wartawan hanya dengan bermodalkan handphone pintar (smartphone) plus (+) kuota internet. Dengan begitu, proses-proses jurnalistik yang berupa pencarian,  pengumpulan, pengolahan dan penyebarluasan berita dapat dilakukan hanya dengan satu alat bernama smartphone.

Menurut Asep Syamsul Romli, seorang blogger sekaligus pengajar yang menjadi pemerhati jurnalistik online menyebutkan, Jurnalistik online juga memperkuat atau menumbuhkembangkan jurnalisme warga (citizen journalism) dengan memanfaatkan blog atau media sosial (social media). Kini, setiap orang bisa menjadi wartawan, dalam pengertian meliput peristiwa dan melaporkannya melalui internet.

Nama lain Jurnalistik online

Adapun beberapa nama lain daripada jurnalistik online di antaranya:

  • Multimedia Journalism
  • Cyber Journalism
  • Internet Journalism (jurnalistik internet)
  • Website Journalism (jurnalistik website)
  • Digital journalism
  • Daring Journalism
  • Headline Jurnalism (jurnalistik judul)
  • Clickbait Journalism?

Perubahan yang terjadi dalam wajah jurnalistik
Seiring hadirnya jurnalistik online, jurnalistik internet ataupun cyber journalism, tentunya hadir pula beberapa perubahan dalam wajah jurnalistik, di antaranya:

Orientasi Bisnis

Dahulu, setiap media cetak, berkutat dalam hal oplah atau jumlah terbit untuk memperhitungkan hasil keuntungan yang nantinya akan mereka dapat dari karya jurnalistik mereka, dalam internet journalism ini, yang menjadi perhatian adalah jumlah pengunjung website (website traffic). Sehingga tidak heran muncul apa yang disebut jurnalistik umpan klik (clickbait journalism) yang dikatakan Asep Syamsul Romli sebagai berita sensasional, bombastis dan dramatis itu.

Cara mencari berita

Dulu, setiap orang mendapatkan informasi atau berita dengan mengunjungi penjual koran di pinggir jalan, atau dengan berlangganan. Kini, pencarian berita dapat dilakukan hanya dengan menggunakan gadget+koneksi internet.

Konten atau isi media

Dalam jurnalistik on-line, isi sebuah media tidak hanya menampilkan data atau informasi berupa teks saja, tetapi juga dalam bentuk gambar, video, link dan audio. Sehingga wajar kalau jurnalistik online ini lebih banyak diminati dan menjadi highest level of journalism.

Audiens atau khalayak

Dalam jurnalistik selain online, berita hanya ditujukan kepada audiens atau khalayak berupa manusia. Dalam konteks jurnalistik online, sasaran penyampaian pesan tidak hanya ditujukan atau disegmenkan pada manusia saja, tetapi juga pada mesin pencari seperti google, bing dan yahoo. (ada yang disebut dengan istilah SEO)

Format teks

Dalam jurnalistik online, ada yang disebut dengan white spacing, atau jarak di antara paragraf yang membuat mata pembaca tidak merasa jenuh dengan berita yang mereka simak. Hal lainnya adalah konten berita yang cenderung pendek (maksimal 5 baris dalam 1 paragraf).

Tuntutan jurnalis

Jika dahulu tuntutan yang diemban seorang jurnalis hanya terpaku pada kompetensi menulis dan memotret (pengambilan gambar), maka pada era jurnalistik online parajurnalis mendapat tuntutan lain, yakni mengoperasikan teknologi komunikasi era baru beserta pendukungnya seperti HTML dan CSS.

Demikianlah penjelasan sederhana mengenai dasar-dasar jurnalistik online, semoga mampu menambah wawasan anda dalam dunia kejurnalistikan.