Jurnalisme Kuning: Pengertian, Sejarah dan Karakternya


Jurnalisme kuning
atau yellow journalism adalah surat kabar atau majalah yang dengan sengaja mengeksploitasi sesuatu untuk merebut perhatian dan minat pembaca dengan muslihat yang membangkitkan emosi pembaca tanpa disertai fakta (Mulyadi, 2013: 18).

Setelah adanya media online, jurnalime kuning tidak hanya diterapkan oleh majalah atau surat kabar (media cetak) saja, tetapi juga pada kebanyakan media online.

Dalam bukunya Stanley J. Baran, Introduction to Mass Communication, Media Literacy and Culture, dijelaskan bahwa jurnalisme kuning adalah jurnalisme yang menekankan pada sensasi seks, kriminal, dan berita malapetaka (McGraw-Hill, 2004: 109).

Baca Juga: Perbedaan Pers Timur dan Pers Barat

Secara teknis media itu membuat judul dalam ukuran huruf besar, penggambaran yang kasar dan bergantung pada kartun (karikatur) serta berwarna warni.

Sejarah

Jurnalisme Kuning lahir ketika ada pertempuran headline dua media di New York tahun 1800-an, antara Joseph Pulitzer dengan Wiliam Randolph Hearst.

Paham atau aliran jurnalisme kuning turut mewarnai dunia pers di Indonesia setelah runtuhnya rezim Soeharto atau pada masa orde baru.

Kebebasan pers di masa reformasi disalahgunakan dengan maraknya media yang menyajikan berita terlalu fantastis, bombastis dan cenderung berlebih-lebihan.

Karakteristik

Jurnalisme kuning lebih menekankan unsur sensasional dan dramatis dalam menyajikan berita. Ciri utama dari koran kuning adalah aspek visual yang cenderung berlebihan dan dominan ketimbang teks beritanya.

Adapun karakteristik dari jurnalisme kuning atau media kuning secara lengkap adalah sebagai berikut:

  1. Scare-heads; headline yang memberi efek ketakutan, ditulis dalam ukuran font yang sangat besar dan dicetak dengan warna hitam atau merah.
  2. Penggunaan foto dan atau gambar yang berlebihan (lebih dominan daripada teks)
  3. Menjadi suplemen di hari minggu, yang berisi komik berwarna dan artikel-artikel sepele.
  4. Adanya teknik verbal yang negatif seperti: judul yang menipu, wawancara palsu, pseudo-science dan judul-judul yang menyesatkan.
  5. Nilai berita (news value) yang mendasar seperti penting, aktual, faktual, berpengaruh tidak diindahkan.
  6. Media yang menggunakan aliran jurnalisme kuning ini lebih tertarik memberitakan isu yang kontrovesi seperti sex, konflik dan kriminal.
  7. Konten berita pada media kuning sering disebut ‘berita sampah’

Dalam versi media online, jurnalisme kuning sering disebut clickbait journalism atau jurnalisme umpan klik. Media yang menggunakan aliran ini lebih mementingakan bagaimana berita atau tulisan pada website mereka di klik, bukan untuk dibaca. Sehingga orientasi utamanya adalah pada tingginya rating dan melimpahnya penghasilan dari iklan (mayoritas iklan dari adsense).

Baca juga: Jenis-jenis Media Online

Dalam pembahasaan yang lebih halus, media yang menganut aliran ini tidak seimbangnya antara fungsi keredaksian dengan fungsi marketing dimana fungsi marketing lebih menonjol.

Disarikan dari buku Jurnalisme Dasar – Panduan Praktis Jurnalis yang ditulis oleh Nadi Mulyadi dan Asti Musman. Penerbit Citra Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *