Hambatan Psikologis dalam Komunikasi Massa

Setiap kegiatan atau proses komunikasi, baik komunikasi antarpersonal, komunikasi organisasi atau pun komunikasi massa sudah barang tentu akan menemui berbagai hambatan. Hambatan dalam kegiatan komunikasi tersebut akan mempengaruhi sejauh mana efektivitas dari komunikasi tersebut.

Dalam komunikasi massa, hambatan ini relatif lebih kompleks dibanding dalam komunikasi lainnya. Hal itu disebabkan komunikan dalam komunikasi massa yang bersifat heterogen.

Demi keefektivan proses komunikasi massa, maka para pelaku atau pegiat komunikasi massa (terkhsusus orang-orang media) seyogianya mengetahui hambatan-hambatan tersebut.

Hambatan Psikologis

Beberapa hambatan psikologis dalam komunikasi massa di antaranya kepentingan (interest), prasangka (prejudice), stereotip (stereotype) dan motivasi. Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia (Ardianto, 2014: 89)

Perbedaan Kepentingan (Interest)

Kepentingan atau Interest akan membuat manusia selektif dalam menanggapi atau menghayati sebuah pesan. Mereka hanya akan memperhatikan stimulus yang berhubungan dengan kepentingannya.

Baca juga: Jurnalisme Kuning: Pengertian, Sejarah dan Karakternya

Effendy dalam Ardianto (2014: 90) menggambarkan situasi tersebut dengan tersesatnya seseorang di dalam hutan. Jika dalam beberapa hari di hutan itu ia tidak menemukan makanan, maka ia akan lebih memperhatikan stimulus yang berkaitan dengan kepentingannya; makanan.

Andai kata dalam situasi kelaparan tersebut ia dihadapkan pada dua pilihan antara sekotak emas batangan dengan makanan, maka yang menjadi pilihan utamanya adalah makanan.

Prasangka

Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka, Sears dalam Ardianto (2014: 91).

Menurut Rakhmat dalam Ardianto (2014: 91), persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Persepsi dipengaruhi oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor-faktor tersebut antara lain kebutuhan (need), pengalaman masa lalu, peran dan status.

Pembahasan singkat mengenai persepsi telah menunjukkan kepada kita bahwa persepsi dapat menentukan sikap orang terhadap stimulus (benda, manusia, peristiwa) yang dihadapinya.

Dalam konteks proses atau kegiatan komunikasi massa, prasangka komunikan media massa biasanya didasari persepsi tentang media massa yang menjadi penyalur pesan.

Contoh nyata dalam kasus ini adalah prasangka masyarakat tentang Metro Tv. Karena beberapa kali dianggap tidak menyajikan informasi yang objektif dan berimbang, maka masyarakat kehilangan kepercayaan kepada Metro Tv, sekalipun di lain waktu mereka menyajikan informasi yang objektif dan berimbang.

Adanya plesetan ‘Metro Tipu’ merupakan bukti nyata prasangka menjadi hambatan dalam komunikasi massa. Dengan adanya plesetan tersebut, menunjukkan betapa masyarakat akan sulit menerima pesan yang disampaikan Metro Tv.

Stereotip

Prasangka selalu berdampingan dengan stereotip yang merupakan hgambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negatif (Gerungan dalam Ardianto, 2014: 92).

Stereotip mengenai orang lain atau golongan lain sudah terbentuk pada orang yang berprasangka, meski sesungguhnya orang yang berprasangka itu belum bergaul dengan orang yang diprasangkainya. Jadi, stereotip itu terbentuk pada dirinya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subjektif.

Stereotip yang sering kita dengar sehari-hari adalah bahwa orang Batak itu berwatak keras, orang jawa itu lembut dan lain sebagainya.

Motivasi

Semua tingkah laku manusia pada dasarnya memiliki motif tertentu. Begitu pula dengan seseorang yang menonton televisi, membaca koran atau membaca media online.

Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak , alasan-alasan  atau dorongan-dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu. (Gerungan, 1983: 142).

Ada yang menonton televisi dengan motif karena ia susah tidur, ada yang membaca koran karena jenuh menunggu antrean dan ada yang membaca dan menonton atas dasar ingin menambah wawasan atau mengetahui informasi terkini.

Dengan perbedaan motif di antara komunikan media massa tersebut, maka berbeda pula efek yang muncul.

Semakin tujuan suatu komunikasi yang dibawa komunikator sesuai dengan motivasi komunikan dalam menerimanya, maka bisa dikatakan komunikasi tersebut berjalan efektif.

2 Replies to “Hambatan Psikologis dalam Komunikasi Massa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *